Pages

Subscribe:

Ads 468x60px


Get this widget!

Selasa, 13 Mei 2014

Demba Ba: Menjadi Muslim Lebih Penting daripada Menjadi Pesepakbola

baPemain sepakbola asal Senegal dan juga merupakan striker Chelsea, Demba Ba, berinisiatif mendanai pembangunan masjid di kampung halaman orangtuanya di Senegal .
"Menjadi diri sebagai Muslim lebih penting daripada menjadi pesepakbola,” katanya seperti dikutip dalam sebuah wawancara dengan Independent oleh website sen24heures pada hari Jumat, 9 Mei.
” Seorang Muslim yang baik otomatis akan menjadi orang yang baik , jadi saya mencoba untuk menjadi orang yang baik,” tambahnya .
Ia ingin buktikan akan menjadi seorang Muslim yang taat , bintang Chelsea ini bahkan biasanya merayakan golnya dengan rasa syukur dan melakukan sujud.
Masjid baru ini diharapkan akan diresmikan dalam beberapa pekan mendatang .
Demba Ba berasal dari Senegal, sebuah negara di Afrika Barat di mana Islam adalah agama dominan di sana. Hampir 90 persen dari penduduk negara itu adalah Muslim .

Rabu, 07 Mei 2014

Lima Bulan Menjelang Pernikahan, Membawanya ke Islam

menikahLima bulan sebelum hari pernikahannya, Karen Meek shock mendengar pengakuan Eric, tunangannya. Eric mengatakan bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Pengakuan itu bagai petir di siang bolong buat Karen yang seperti warga Rusia lainnya, tidak menganut agama apapun alias ateis.
“Saya pikir ia (Eric) sudah mengalami cuci otak. Tiba-tiba saja ia berhenti minum minuman beralkohol. Ia salat lima waktu sehari dan tidak mau lagi makan daging babi,” cerita Karen tentang perubahan perilaku tunangannya.
Sementara Eric, yang semula penganut Kristen Baptis, tapi kemudian menjadi seorang atheis, selama berbulan-bulan mempelajari Islam tanpa memberitahu Karen, hingga akhirnya ia memutuskan menjadi seorang Muslim.
Meski shock Karen tetap ingin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Eric. Karen lalu mencari berbagai referensi, mulai dari buku sampai video tentang Islam, untuk memahami agama baru yang dianut calon suaminya. Tapi ia sama sekali tidak berharap akan masuk Islam.
“Saya tumbuh dewasa dengan pola pikir bahwa agama adalah sesuatu yang bodoh. Saya tidak percaya adanya Tuhan. Saya tidak memikirkan bagaimana dunia ini diciptakan, dan terus terang, saya tidak peduli,” ujar Karen.
Namun Karen mengakui bahwa agama Islam memberikan penjelasan paling logis tentang Tuhan dan penciptaan alam semesta dan sulit bagi Karen membantahnya.
Karen akhirnya menikah dengan Eric. Ia masih terus mempelajari Islam dan untuk pertamakalinya ia mencoba menunaikan salat, saat suaminya bekerja di kantor. Ia belajar salat sendiri dari sebuah buku.
“Sampai pada titik ini, saya melakukan segala sesuatunya dengan diam-diam. Saya tidak cerita pada Eric. Saya tidak mau memeluk agama hanya karena suami saya memeluk sebuah agama. Saya ingin menemukan jalan saya sendiri,” ungkap Karen.
“Karena berlatar belakang atheis, saya lebih mudah menerima Islam dibandingkan seorang Kristiani, karena dalam hal ini saya tidak perlu melepas agama apapun,” sambungnya.
Karen dan suaminya mulai sering melakukan pertemuan dengan komunitas Muslim untuk belajar Al-Quran. Hingga akhirnya, Karen membulatkan tekad untuk mengikuti jejak suaminya memeluk agama Islam. Karen pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.
Tapi pilihan Karen membuat orang tuanya kaget. “Suatu hari, ia datang dengan mengenakan gaun panjang dan jilbab. Saya terkejut dibuatnya,” kata ayah Karen, Ray Alfred.
Alfred mengaku merasa asing melihat anak perempuannya ketika itu dan ia merasa khawatir dengan keselamatan Karen saat terjadi serangan 11 September 2001 di AS.
“Anda ingin mencintai anak Anda, tapi ketika mereka melakukan sesuatu yang asing bagi Anda. Hal ini sangat sulit,” ujar Alfred, “Saya akan memberikan apa saja asalkan ia tidak memeluk agama itu (Islam).”
Ibu Karen mengungkapkan komentar serupa, yang terus terang mengatakan bahwa ia tidak suka dengan jilbab yang digunakan puterinya. “Karen adalah seorang gadis cantik dengan rambut yang indah,” kata Jane Barret.
Karen memahami kegundahan kedua orang tuanya mendengar ia sudah menjadi seorang muslimah dan mengenakan busana muslim. Karena sendiri mengaku butuh waktu berbulan-bulan sebelum ia memutuskan untuk berjilbab.
“Saya hanya memakai jilbab jika pergi ke tempat-tempat yang saya rasa tidak akan ada orang yang mengenal saya,” ujar Karen sambil tertawa.
Tapi sekarang, Karen selalu mengenakan jilbab kemanapun ia pergi, termasuk ke tempat kerjanya dimana ia bekerja sebagai staf akuntan di sebuah jaringan restoran.
Karen mengatakan, memeluk Islam telah membuatnya melihat kehidupan dengan cara pandang yang baru. “Dari seorang yang tidak percaya Tuhan menjadi orang yang percaya Tuhan, rasanya sungguh luar biasa. Islam membuka mata saya terhadap banyak hal yang selama ini saya abaikan. Terutama, bahwa kehidupan adalah sebuah karunia,” tukas Karen menutup kisahnya. 

Rezim Mesir Kembali Tutup Gerbang Rafah

rafah

GAZA – Rezim militer Mesir pada Selasa (06/05) malam kembali menutup gerbang perbatasan Rafah, setelah sempat dibuka selama tiga hari bagi para peziarah dan warga yang terdampar di Mesir.
Dalam sebuah pernyataannya, kementerian rezim berkomentar belum ada tanggal pasti yang ditetapkan untuk melakukan pembukaan perbatasan Rafah kembali.
Akibat penutupan tersebut, sekitar 840 peziarah muslim dan beberapa orang lainnya terdampar di Mesir dan tidak dapat kembali ke Gaza.
Departemen penyeberangan Palestina mengatakan, pihak berwenang Mesir walau sempat membuka perbatasan Rafah tetapi masih menutup penyeberangan untuk kepentingan kemanusiaan seperti kasus-kasus yang membutuhkan penanganan medis dan mahasiswa. 

Jumat, 02 Mei 2014

Subhanallah!!! Telur Berlafadz Allah

Telur bertuliskan Lafadz Allah di cangkangnya kembali menggerkan warga Jalan Nurul Hikmah III, RT06/11, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. Tulisan tersebut nampak jelas dikulit telur unggas yang dibeli dari sebuah warung klontong.
Akibat penemuan itu 400 kepala keluarga berdatangan untuk melihat keunikan dan keajaiban di telur tersebut.
Sang pemilik telur Lina Marlina, 30, mengaku, tidak sengaja menemukan telur berlafaz Allah tersebut. Pasalnya, saat itu dirinya hendak memasak lauk bagi keluarganya itu dari sebuah warung klontong.
Ketika hendak memasak kejanggalan pun terjadi. Telur yang hendak direbusnya itu sangat berbeda dari telur yang lain. Yakni, telur itu paling besar dari telut yang lain dan saat diperiksa kulit telur itu mengeluarkan lafadz sang pencipta.
“Pas saya mau rebus ternyata ada guratan lafadz Allah dikulitnya yang timbul dan terlihat. Saya langsung terkejut dan tidak jadi merebus telurnya. Tidak sengaja saya temukan habis beli dari warung buat sarapan suami sebelum berangkat kerja,” ungkapnya kepada INDOPOS (Grup JPNN.com), Rabu (30/4).
Lebih lanjut, kata Lina, karena merasa takut menyimpan telur yang bertuliskan lafadz Allah itu dirinya melaporkannnya kepada kakak iparnya bernama Yandi, 43, yang berdomisili di Jalan H Usin 2, RT01/22, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya.
Dirinya meminta telur itu disimpan oleh kakak iparnya itu. Namun, saat hendak membawa telur itu salah satu tetangganya mendengar perihal penemuan telur ajaib tersebut. Seketika itu pula ratusan warga sekitar berbondong-bondong berdatangan kerumahnya untuk melihat telur tersebut.
“Dari tetangga kemudian semua tersebar. Saya sih senang tetapi takut juga, soalnya saya masih belum siap menerima benda itu. Ya saya langsung telepon kakak ipar biar disimpan dirumah mereka. Takut karena saya bukan orang yang tepat untuk memegang telur berlafadz Allah,” katanya.

Ayah Bunuh Putrinya karena Memeluk Islam

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAMMAN – Seorang ayah berkebangsaan Yordania tega membunuh putrinya sendiri. Dilansir World Bulletin, Jumat (02/05), sang ayah menghabisi darah dagingnya karena sang putri memeluk agama Islam beberapa hari setelah dia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Puluhan warga Yordania yang mengetahui kabar itu kemudian memprotes tindakan sang ayah yang beragama Krsiten dan berusaha mendobrak masuk sebuah gereja di sebelah utara Provinsi Ajloun, Kamis (01/05).
“Beberapa warga desa Al Wahadinah mengepung dan berusaha mendobrak masuk ke dalam gereja. Tak lama kemudian beberapa pemuda berusaha untuk membakarnya sebelum pihak keamanan setempat turun tangan,” kata sumber keamanan yang enggan disebutkan namanya.
Petugas keamanan itu menambahkan sang membunuh putrinya pada Rabu (30/04) tak lama setelah dia memeluk agama Islam saat menghadiri ceramah seorang ulama kesohor dari Arab Saudi, Syaikh Muhamad Al Arifi di Universitas Yordania, Amman.
“Dia memukul kepala putrinya dengan sebuah batu,” kata petugas keamanan itu. “Korban tewas seketika.”
Warga, yang berkumpul di luar gedung administratif provinsi sebelum mendemo gereja, meminta pemakaman korban dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam. Sampai saat ini otoritas Yordania belum berkomentar.

Samir Nasri Prihatin dengan Islam Phobia di Prancis


Paris -- Pesepak bola internasional Prancis yang bermain di Liga Premier Inggris, Samir Nasri, menyampaikan keprihatinannya atas peningkatan Islam Fobia dan sentimen anti Muslim di Prancis. Pria yang juga memperkuat tim nasional sepak bola Prancis itu menilai saat ini makin sulit menjalani hari-hari sebagai seorang Muslim di Prancis.
"Belakangan, umat Islam di Prancis makin tidak leluasa. Tiga empat  tahun ini,  komunitas Muslim diperlakukan tidak laik. Tak bisa dipungkiri  ini juga terkait kubu ekstremis sayap kanan," kata pemain dari Klub  Manchester City itu, seperti dikutip The Telegraph, Rabu (30/4).
Nasri, yang memiliki darah Aljazair, merujuk pada fenomena  meningkatnya sentimen kubu ekstremis sayap kanan dan Front Nasional  pimpinan Marine Le Pen.
"Warga Perancis berbalik dan menyerang Muslim, itu agak menyeramkan.  Padahal, 10 hingga 15 tahun lalu tidak begini. Saya tidak suka mentalitas  yang dibangun di Prancis saat ini," tutur Nasri.
Baginya, bermain bola di Prancis bukan opsi yang tepat karena malah mempersulit dirinya. Akhir-akhir ini, kata Nasri, citra yang dimunculkan atas pemain bola justru buruk, terlebih jika pesepak bola itu Muslim.
Pemain tengah terbaik Prancis ini disebut-sebut sebagai pengganti  legenda sepak bola Prancis yang pensiun pada 2006 lalu, Zinadin  Zidane.
Nasri memulai debutnya dengan bermain di Liga Divisi 1 dengan klub asal  Marseille pada musim 2004/2005 dan dengan cepat melejit menjadi  bintang muda sepak bola.
Pemuda yang disebut sebagai 'Zidane Baru' ini bergabung dalam tim  nasional Prancis tahun lalu saat usianya masih 19 tahun. Ia mencetak gol  internasional pertamanya dalam penampilan ketiganya dengan tim senior melawan Georgia dalam kualifikasi UEEFA Juni 2008 lalu. 
Warga Prancis keturunan Arab dan Afrika menjadi tulang punggung skuat  tim nasional Prancis selama bertahun-tahun, termasuk bintang sekelas  Zidane dan Lilian Thuram.
10 persen dari sekitar 61 juta warga Prancis merupakan keturunan Arab  dan Afrika. Jumlah Muslim sendiri di Prancis diperkirakan mencapai  enam juta jiwa. Muslim Prancis juga sudah lama mengalami diskriminasi dan sentimen buruk dari berbagai negara Eropa.
Dalam jajak pendapat terbaru IFOP terungkap bahwa hampir setengah populasi warga Perancis melihat Muslim sebagai ancaman bagi identitas  nasional Prancis.
Sementara itu, kabar bahagia datang dari mantan pesepak bola Prancis  lainnya. Mantan pesepak bola internasional yang belakangan menjadi  pelatih sebuah klub Liga Premier Aljazair, Laghouat Club, mengumumkan  dirinya telah menjadi Muslim.
Langkah mengejutkan Francois Bracci ini diumumkannya pada Jumat  (25/4) lalu. Islamnya pria yang tampil cemerlang dalam Olympique de  Marseille and Strasbourg ini membawa kegembiraan luar biasa bagi  pemuda-pemuda Muslim asuhannya.
Bracci telah melatih banyak tim sepak bola di negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia dan Aljazair sejak 2003 lalu. Lelaki berusia 63  tahun ini mengaku telah mempelajari Islam selama keberadaannya di tiga  negara Muslim itu. Setelah belajar tentang Islam, ia memutuskan untuk  bersyahadat.
Seiring prestasinya bersama tim nasional Prancis dalam Olympique de  Marseille and Strasbourg, Bracci terpilih menjadi bagian tim nasional  Prancis yang bertanding dalam Piala Dunia di Argentina pada 1978.
Bracci bukan pelatih sepak bola pertama yang memeluk Islam selama  berada di Aljazair. Sebelumnya, manajer tim sepak bola Aljazair, Shabab,  juga mengubah agamanya menjadi Islam.

11 Muslim Dibantai di India

Death toll rises to 40 in clashes in India's AssamASSAM – Terduga kelompok militan di India menembak mati 11 Muslim, termasuk dua orang perempuan, di sebelah timur laut kota Assam, kata laporan petugas polisi dilansir dari World Bulletin pada Jumat (02/05).
Kota Assam sempat mengalami gesekan sosial yang cukup tinggi saat pemilihan umum India berlangsung beberapa hari yang lalu.
Polisi mengatakan kelompok militan yang melakukan pembunuhan ini diduga anggota suku Bodo, yang berdasarkan laporan beberapa kali menyerang Muslim karena dianggap masuk ke India secara ilegal dari Bangladesh dan merambah tanah moyang mereka di perbukitan.
“Pemerintah akan mengambil tindakan atas kejahatan ini,” kata juru bicara pemerintah India, Nilamoni Sen Dena.
Kepolisian India kemudian mengirimkan beberapa pasukannya ke dua daerah yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP), yang secara historis kerap dilanda konflik sektarian.
Insiden pertama, kata polisi, menewaskan tiga orang dari sebuah keluarga dan melukai seorang bayi. “Pria bersenjata masuk ke dalam rumah dan langsung menembak mereka,” kata salah seorang perwira polisi senior.
“Sementara insiden kedua menewaskan delapan orang,” tambahnya. Dua tahun lalu 40 orang tewas akibat bentrokan antara suku Bodo dan Muslim di daerah yang sama.
Beberapa orang kandidat dalam pemilihan umum India, termasuk tokoh oposisi terdepan, Narendra Modi, turut berperan dalam menyebarkan stigma anti warga Bangladesh di Assam. Modi pada pekan lalu mengatakan imigran dari Bangladesh di sekitar Assam harus angkat kaki jika dia menang dalam pemilu yang hasilnya diumumkan pada 16 Mei 2014 nanti.